Prologue
Dalam keseharian, kita
sering mendengar dan menyebut istilah sistem. Penyebutan istilah sistem pun
hampir banyak digunakan dan mudah dilakukan oleh hampir sebahagian besar orang.
Lalu apa yang dimaksud dengan sistem.
Setiap sistem tentu memiliki sifat atau unsur-unsur sebagai berikut yaitu :
1.
Terdiri dari banyak bagian-bagian atau sub-sub sistem.
2.
Bagian-bagian tersebut satu sama lain saling
berinteraksi dan salaing tergantung.
3.
Sistem itu memiliki ruang lingkup tersendiri atau
perbatasan (boundaries) yang memisahkannya dengan lingkungannya.
Berangkat dari unsur-unsur tersebut maka secara sederhana dapat
didefinisikan bahwa ”sistem adalah kesatuan dari seperangkat struktur yang memiliki
fungsi masing-masing yang bekerja untuk mencapai tujuan tertentu”.
Dalam ilmu politik
yang dimaksud dengan sistem politik, adalah kesatuan dari seperangkat struktur
politik yang memiliki fungsi masing-masing yang bekerja untuk mencapai tujuan
suatu negara. Selanjutnya berbicara tentang sistem politik tentu tidak bisa
dipisahkan dengan proses politik itu sendiri. Sistem politik secara fungsional
adalah bagian dari sistem sosial yang menjalankan proses alokasi nilai-nilai
dalam bentuk keputusan-keputusan atau kebijaksanaan-kebijaksanaan yang bersifat
otoritatif yang dikuatkan oleh kekuasaan yang sah dan mengikat bagi seluruh
masyarakat. Dalam masyarakat modern, otorita atau kekuasaan yang sah, dan yang
memiliki wewenang yang sah untuk menggunakan kekuasaan secara paksa adalah
berbentuk negara.
Sistem politik secara
teroritis pasti memiliki ciri-ciri yang bersifat universal, yaitu dalam bentuk
struktur dan fungsi politik. Ciri-ciri tersebut hampir bisa dikatakan berlaku
di semua negara di seluruh dunia. Hanya yang membedakan sistem politik suatu
negara dengan negara yang lainnya, adalah apakah negara tersebut otoritarian
atau demokratis.
Pendekatan sistem
politik ditujukan untuk memberi penjelasan yang bersifat ilmiah terhadap
fenomena politik. Pendekatan sistem politik dimaksudkan juga untuk menggantikan
pendekatan klasik ilmu politik yang hanya mengandalkan analisis pada negara dan
kekuasaan. Pendekatan sistem politik diinspirasikan oleh sistem yang berjalan
pada makhluk hidup (dari disiplin biologi).
Dalam pendekatan
sistem politik, masyarakat adalah konsep induk oleh sebab sistem politik hanya
merupakan salah satu dari sistem-sistem lain yang ada di masyarakat seperti
sistem ekonomi, sistem sosial dan budaya, sistem kepercayaan dan lain
sebagainya. Sistem politik sendiri merupakan abstraksi (realitas yang diangkat
ke alam konsep) dari kondisi real kondisi perpolitikan di suatu masyarakat.
Seperti telah
dijelaskan, suatu masyarakat tidak hanya terdiri atas satu sistem (misalnya
sistem politik saja), melainkan terdiri atas multi sistem. Sistem yang biasanya
dipelajari kinerjanya adalah sistem politik, sistem ekonomi, sistem agama,
sistem sosial, atau sistem budaya-psikologi. Dari aneka jenis sistem yang
berbeda tersebut, ada persamaan maupun perbedaan. Perbedaan berlingkup pada
dimensi ontologis (hal yang dikaji) sementara persamaan berlingkup pada
variabel-variabel (konsep yang diukur) yang biasanya sama antara satu sistem
dengan lainnya.
Untuk memahami sistem politik Indonesia, layaknya kita memahami
sistem-sistem lain, maka harus kita ketahui beberapa variabel kunci.
Variabel-variabel kunci dalam memahami sebuah sistem adalah struktur, fungsi,
aktor, nilai, norma, tujuan, input, output, respon, dan umpan balik.
Variabel-variabel ini adalah sama antara satu sistem dengan sistem lain dengan
perbedaan hanya pada dimensi ontologisnya.
Sistem politik, seperti juga sistem-sistem lain, akan lebih mudah
dipahami jika dihampiri dengan pendekatan sistem. Pendekatan ini bertolak dari
dalil sentral, bahwa semua gejala sosial (termasuk politik) adalah saling
berhubungan dan saling pengaruh mempengaruhi. Pendekatan sistem berpegang pada
prinsip bahwa tidak mungkin untuk memahami suatu bagian dari masyarakat secara
terpisah dari bagian-bagian lain yang mempengaruhi operasinya.
Konsep Sistem Politik oleh Gabriel
A. Almond
Menurut Almond, sistem politik adalah merupakan sistem interaksi yang
terjadi dalam masyarakat yang merdeka. Sistem itu menjalankan fungsi integrasi
dan adaptasi. Sistem politik adalah
sistem interaksi yang terdapat dalam semua masyarakat yang bebas/merdeka dalam
melaksanakan fungsi-fungsi integrasi dan adaptasi (baik dalam masyarakatnya
maupun berhadap-hadapan dengan masyarakat lainnya) melalui penggunaan paksaan
fisik yang lebih kurang bersifat absah.
Bebebapa hal yang perlu dicermati berdasarkan
pengertian sistem politik diatas:
Sistem politik merupakan “sistem interaksi” yang
terdapat dalam semua masyarakat yang bebas/merdeka.
Sistem politik juga melaksanakan fungsi
integrasi, bahwa tujuan pokok sistem politik mengusahakan tercapainya kesatuan
di dalam masyarakat.
Fungsi adaptasi, yaitu penyesuaian diri dari
sistem politik terhadap lingkungan masyarakatnya sendiri maupun lingkungan
masyarakat lainnya.
Almond
menggunakan pendekatan perbandingan dalam menganalisa jenis sistem politik,
yang mana harus melalui tiga tahap, yaitu:
1. Tahap mencari
informasi tentang sobjek. Ahli ilmu politik memiliki perhatian yang fokus
kepada sistem politik secara keseluruhan, termasuk bagian-bagian (unit-unit),
seperti badan legislatif, birokrasi, partai, dan lembaga-lembaga politik lain.
2. Memilah-milah
informasi yang didapat pada tahap satu berdasarkan klasifikasi tertentu. Dengan
begitu dapat diketahui perbedaan suatu sistem politik yang satu dengan sistem
politik yang lain.
3. Dengan
menganalisa hasil pengklasifikasian itu dapat dilihat keteraturan
(regularities) dan ubungan-hubungan di antara berbagai variabel dalam
masing-masing sistem politik.
Menurut Almond
ada tiga konsep dalam menganalisa berbagai sistem politik, yaitu sistem, struktur, dan fungsi.
Sistem dapat diartikan
sebagai suatu konsep ekologis yang menunjukkan adanya suatu organisasi yang
berinteraksi dengan suatu lingkungan, yang mempengaruhinya maupun
dipengaruhinya. Sistem politik merupakan organisasi yang di dalamnya masyarakat
berusaha merumuskan dan mencapai tujuan-tujuan tertentu yang sesuai dengan
kepentingan bersama. Dalam sistem politik, terdapat lembaga-lembaga atau
struktur-struktur, seperti parlemen, birokrasi, badan peradilan, dan partai
politik yang menjalankan fungsi-fungsi tertentu, yang selanjutnya memungkinkan
sistem politik tersebut untuk merumuskan dan melaksanakan
kebijaksanaan-kebijaksanaannya.
Ciri sistem
politik menurut
Gabriel A. Almond:
1. semua sistem
politik mempunyai struktur dan lembaga politik
2. semua sistem
politik, baik yang modern maupun primitif, menjalankan fungsi yang sama
walaupun frekuensinya berbeda yang disebabkan oleh perbedaan struktur. Kemudian
sistem politik ini strukturnya dapat diperbandingkan, bagaimana fungsi-fungsi
dari sistem-sistem politik itu dijalankan dan bagaimana pula cara/gaya
melaksanakannya.
3. semua struktur
politik mempunyai sifat multi-fungsional, betapapun terspesialisasinya sistem
itu.
4. semua sistem politik
adalah merupakan sistem campuran apabila dipandang dari pengertian kebudayaan.
Menurut Gabriel Almond :
(-) Pada setiap Sistem politik pasti terdapat fungsi-fungsi
yang ada demi berlangsungnya sistem politik .
(-) Ciri-ciri universal yang pasti dimiliki oleh
sistem politik adanya fungsi politik dan struktur politik .
Unsur – Unsur Sistem Politik
COMPREHENSIVENESS (menyeluruh)
Artinya, sistem politik mencakup semua
interaksi, baik berupa masukan (input) maupun keluaran (output) yang
mempengaruhi penggunaan atau cara penggunaan paksaan.
INTERDEPENDENCE (saling ketergantungan)
Artinya, perubahan pada salah satu aspek akan
menyebabkan perubahan pada seluruh sistem.
BOUNDRIES (adanya batasan-batasan)
Artinya, terdapat batas-batas antara sistem
politik dengan sistem-sistem lainnya sehingga ada ketegasan dan kejelasan
mengenai wilayah kajian sistem politik.
Sistem politik merupakan sub sistem dari sistem
yang lebih kompleks dan besar. Sistem politik berinteraksi dengan sub sistem lainnya,
seperti sistem budaya, sistem ekonomi, dll.
Fungsi Politik dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:
FUNGSI INPUT, meliputi artikulasi
kepentingan, aggregasi kepentingan, sosialisasi politik, rekruitmen politik,
dan komunikasi politik.
FUNGSI OUTPUT, meliputi pembuatan kebijakan (policy making), penerapan kebijakan (policy
implementation), dan penghakiman kebijakan (policy adjudication).
Fungsi Politik dijalankan oleh struktur politik yang didalamnya telah
terbentuk differensiasi struktural dan diikuti dengan spesialisasi fungsi.
Bekerjanya struktur politik dalam menjalankan fungsi politik mengikuti
rangkaian alur proses politik yang ada.
Struktur Politik
Struktur politik yang
dijelaskan oleh Almond terdiri dari 6 komponen, yaitu: kelompok kepentingan,
partai politik, legislatif, eksekutif, birokrasi, dan yudikatif.
Namun, apabila merunut pada pemikiran Sri Soemantri, maka struktur politik
yang diungkapkan oleh Almond dapat dipilah dalam 2 kategori dan diperkaya
dengan sejumlah unsur struktur politik yang lain, sebagaimana berikut ini:
SUPRASTRUKTUR POLITIK, terdiri dari legislatif, eksekutif, birokrasi, dan yudikatif.
INFRASTRUKTUR POLITIK, terdiri dari kelompok kepentingan, kelompok penekan, partai politik, alat
komunikasi politik, dan tokoh politik.
Kelemahan
Sistem Politik Almond dan Easton
Analisis Sistem Politik Easton dan Almond tidak
menghasilkan rumusan yang empirik atau mampu menjelaskan seluruh proses politik
yang terjadi.
Kedua model ini sistem politik ini tidak memahami
kejadian dis-equilibrium, seperti revolusi. Kedua model sistem politik tersebut
tidak memasukkan gagasan perubahan tersebut yang dapat mempengaruhi sistem
politik.
Kedua model tersebut cenderung tidak
menghasilkan teori dari hubungan sebab-akibat karena kedua model tersebut hanya
menunjuukkan sifat model analisis, yaitu hanya menganalisa fenomena politik.
Keunggulan Sistem
Politik Almond dan Easton
Kedua model tersebut berpengaruh besar dalam
perkembangan studi ilmu politik sejak tahun 1950.
Kedua model mampu membuat analisa politik dengan
cukup peka diantara kompleksitas sistem politik di dalam sistem sosial yang
lebih besar.
Kedua model sistem politik mampu menciptakan
keseimbangan/ekuilibrium/stabil dan jika ada konflik, maka model sistem politik
mampu mengecek setiap komponen atau subsistem untuk menemukan sumber
konfliknya.
Kesederhanaan kedua model tersebut dapat dipakai
untuk menganalisa berbagai sistem politik, baik yang demokratis maupun
otoriter, tradisional maupun modern.
5:52:00 AM |
Category: |
3
komentar









