Dan Semua Menghilang
Thalita menatap kosong ke bawah. Permukaan sungai terlihat tenang. Air sungai itu pasti dingin sekali. Ia pasti akan mati kedinginan bila terjun ke sungai itu. Mati beku dan tubuhnya akan terombang ambing oleh derasnya air sungai.
Ia hanya perlu membiarkan dirinya jatuh. Setelah itu, ia akan bertemu dengan orang-orang yang di sayanginya. Ia tidak sanggup hidup tanpa mereka dan rasa sakit ini, tak mampu di obati. Satu kali dorongan saja. Tetapi tubuhnya tetap bergeming. Terpaku di tempat. Tidak mau bergerak.
Rasa sakit di dadanya kian menusuk, ketika membayangkan hal terburuk terjadi pada orang yang di sayanginya. Ia tidak sanggup menahannya lagi. Tuhan..tolong aku..kembalikan mereka..jangan ambil mereka..
Thalita kembali mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap permukaan sungai. Tiba-tiba ada yang mencengkeram lengannya dan menariknya menjauhi pagar jembatan. Thalita terperanjat dan nyaris kehilangan keseimbangan. Ia memutar kepala dengan cepat, dan langsung berhadapan dengan seorang perempuan setengah baya yang sangat ia kenal.
“Tante?” gumamnya. Matanya terbelalak kaget.
“Apa yang kamu lakukan di sini, Tata?” tanya tante Anggun kaget.Tante Anggun melihat ke bawah. “Kamu mencobanya lagi?” Tante kan sudah bilang, kamu tidak boleh begini terus,” ucap Tantenya bergetar.Thalita memaksakan seulas senyum. Lalu kembali menatap ke permukaan sungai dengan tatapan menerawang. Matanya berkaca-kaca. Ia kembali menatap tantenya itu.“Tante tau, Tata ingin melompat.” kata Thalita dengan suara bergetar. Ia kembali menatap ke bawah dengan tatapan kosong.
Thalita tak mampu lagi membendung air matanya. Ia mencengkeram pagar besi jembatan kemudian terduduk di atas aspal. Ia kembali teringat kejadian itu. Kecelakaan maut sepuluh bulan lalu, yang merenggut nyawa kedua orang tuanya.
Di saat ia di tinggal oleh kedua orang tuanya, sahabatnya pun juga ikut pergi untuk selamanya, karena penyakit yang di deritanya. Satu-satunya orang yang di milikinya hilang sudah.
Kini, tak ada lagi sandaran hidupnya. Tak ada lagi orang yang benar-benar menyayanginya. Saat ia harus menerima kenyataan itu, dunianya mendadak runtuh di depan mata. Thalita mengalami depresi berat. Ia tidak sanggup menjalani hidupnya. Sendiri. Itulah yang dirasakannya saat itu.
Sendiri yang menimbulkan rasa sakit dan kehilangan. Dan kesendirian itu membuatnya ingin mengakhiri hidup dan menyusul mereka. Bahkan, sudah tiga kali ia melakukan percobaan bunuh diri, namun tidak berhasil.
Sejak itu, ia mulai berubah, Thalita yang dulunya ceria dan selalu tersenyum, kini menjadi Thalita yang lemah. Ia mulai masuk ke dalam pergaulan bebas, ia tidak peduli lagi dengan apa yang di lakukannya.
“Kamu nggak boleh seperti ini terus sayang. Tante nggak mau lihat kamu yang selalu sedih,” ucap Tantenya sedih sambil memeluk Thalita. Memang, di saat kedua orang tuanya pergi, Tante Anggun lah yang merawatnya.
“Tante, Tata kangen mereka. Tata nggak bisa hidup tanpa mereka Tan. Mereka segala-galanya buat Tata. Rasa sakit ini, Tata nggak sanggup lagi menahannya,” ucap Thalita bergetar. Air mata masih mengalir membanjiri pipinya. Tante Anggun menariknya untuk berdiri, lalu menatap mata Thalita. Ada goresan luka yang mendalam, di mata gadis itu.
Tante Anggun mengulas senyum. Hampir setiap detik gadis itu berbicara seperti itu. Namun Tante Anggun hanya bisa tersenyum, menenangkan gadis itu. Ia sudah melakukan berbagai cara, untuk menghilangkan kesedihan Thalita yang mendalam, bahkan mereka memutuskan untuk pindah ke Surabaya, tapi usahanya tetap sia-sia. Saat ini, Tante Anggun hanya bisa memeluk, tersenyum untuk menenangkan gadis itu.
Sejak kedua orang Thalita meninggal dunia, Tante Anggun bersama suaminya sudah menganggap Thalita sebagai anak kandungnya, kebetulan mereka tidak mempunyai anak. Mereka sangat sayang dengan gadis itu. Mereka juga berjanji akan menjaga, dan merawat Thalita layaknya anak sendiri.
******
Thalita memutar kunci mobil, lalu menelusuri jalan raya dengan kecepatan sedang. Ia tidak berniat langsung pulang ke rumah seusai dari sekolah. Ia merasa, bila di dalam rumah ia akan merasa sendiri lagi. Karena Tante dan Oomnya selalu pulang malam.
Namun keheningan dalam mobil kembali membuat rasa sepi itu datang. Dan mendadak kesepian itu berubah menjadi kesedihan. Kesedihan yang terasa menyakitkan. Ia terbayang kembali wajah kedua orang tuanya dan Ayra.
Sampai akhirnya mobil Thalita berhenti di tepi danau yang sepi. Thalita turun dengan langkah pelan. Sesaat kemudian ia bergerak mundur, dan membentur mobilnya lalu jatuh terduduk di tanah. Ia membenamkan wajahnya dalam kedua tangan, dan tersedu-sedu. Seluruh tubuhnya berguncang keras. Ia tidak mampu lagi menahan rasa sakit ini. Ia hanya berharap sepenuh hati, dengan menangis, rasa sakit dan kepedihannya akan berkurang walapun hanya sedikit. Karena, sungguh ia tidak tau lagi apa yang harus ia lakukan, selain menangisi nasib dan kenyataan.
Tiba-tiba seseorang menepuk pelan bahunya. Seketika Thalita menoleh. Ia kaget melihat seseorang yang ia kenal berada di sampingnya. Teman barunya, di SMAnya yang baru. Dan kebetulan mereka duduk sebangku. Namanya Sarah, gadis pintar yang shalihah. Baru lima hari Thalita mengenalnya, namun Thalita merasa nyaman banget kalo dekat sama Sarah. Thalita langsung mengusap air matanya. Ia melihat raut wajah Sarah seakan mengkhawatirkan dirinya.
“Tata? Ngapain di sini? Kamu habis nangis? Kenapa? Ada apa?” pertanyaan itu keluar mulus dari mulut gadis itu. Thalita berusaha menahan air matanya untuk tidak keluar lagi. Ia mengulas senyum, walaupun bibirnya terasa kaku.
“Kalo ada masalah, cerita aja. Aku siap bantu kok. Kalo pun aku gak bisa bantu, setidaknya aku bisa jadi pendengar yang baik,” kata Sarah sambil duduk di sebelah Thalita, ia menatap mata Thalita yang sembab.
“Lo nggak mungkin bisa bantu gue, gue tau nggak ada seorang pun, yang bisa mengubah kenyataan di dunia ini,” kata Thalita, air matanya kembali menetes. Thalita langsung menghapusnya. Tapi, air mata itu tetap mengalir. Tanpa dapat ia cegah.
“Lo tau, kenapa gue pindah ke Surabaya?” tanya Thalita lemah. Terlalu banyak menangis menghabiskan tenaganya. Sarah menggeleng pelan. Thalita menunduk lalu menghela napas. Dengan berat, terpaksa ia menceritakan peristiwa masa lalunya.
“Gue pengen memulai hidup baru disini. Gue pengen melupakan peristiwa yang bagaikan mimpi buruk dalam hidup gue. Peristiwa dimana, gue kehilangan semua yang berharga dalam hidup gue. Mama, Papa, cinta, semuanya pergi ninggalin gue…” kata Thalita bergetar, air matanya terus turun, membasahi pipinya.
“Kenapa?” tanya Sarah pelan. Ia sulit mempercayai kata-kata Thalita tadi. Thalita menggigit bibir lalu menarik napas.
“Mereka udah meninggal dunia, sepuluh bulan lalu. Karena kecelakaan mobil, saat mau ke rumah. Waktu itu, mereka baru pulang dari Singapura. Papa ada urusan pekerjaan di sana. Otomatis mama juga ikut nemenin Papa. Sebenarnya, gue juga pengen ikut, tapi waktu itu lagi UN. Jadi, gue nggak bisa ikut.”
“Gue lega karena mereka bisa selamat sampai di Jakarta, tapi ternyata mereka kecelakaan mobil. Mereka meninggal di tempat, dan saat itu juga mereka ninggalin gue untuk selamanya. Saat gue dengar mereka meninggal, gue langsung ngurung diri di kamar. Gue nggak sempat liat jenazah mereka, karena gue nggak sanggup menerima kenyataan itu.”
“Setelah tiga hari di kamar, gue akhirnya keluar. Karena Ayra selalu bujuk gue untuk keluar. Dia sahabat terbaik gue, dia yang bikin gue bisa ngelupain kejadian itu dan bangkit lagi. Akhirnya gue bisa bahagia lagi. Dan itu semua karena dia,” ucap Thalita sambil tersenyum tipis.
“Lalu dimana Ayra sekarang?” tanya Sarah pelan.
Mata Thalita kembali berkaca-kaca. “Dua minggu setelah itu, dia dilarikan ke rumah sakit. Tanpa gue tau, ternyata dia punya penyakit kanker paru-paru. Gue shock banget saat itu. Selama satu minggu dia koma, gue nggak pernah ninggalin dia. Gue takut banget kehilangan dia.”
“Lo tau? Dia juga pergi ninggalin gue untuk selamanya. Saat itu gue ngeliat dunia ini gelap. Karena, hanya dia sandaran hidup gue, dia yang bikin gue bangkit dari keterpurukan karena keluarga telah tiada…” kata Thalita dengan suara bergetar. Ia terus menghapus air matanya yang masih mengalir.
“Sejak mereka pergi, gue merasa sendiri dan kesepian. Rasa sepi itu sungguh menyakitkan. Rasa itu seperti mengalir di tubuh gue. Sakit banget, Rah,” Thalita memegang dadanya.
Kemudian Thalita melanjutkan, “Gue merasa hidup nggak berarti lagi, dan gue udah mencoba bunuh diri beberapa kali. Gue nggak bisa hidup tanpa mereka, gue kangen setengah mati sama mereka. Seandainya ada harapan yang bisa membuat mereka kembali, gue bersedia memberikan semuanya kepada harapan itu, asal mereka kembali. Gue cuma pengen mereka..” kata Thalita sambil terisak. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Sarah yang mendengar cerita Thalita, jantungnya mendadak bergetar hebat. Ia sama sekali tidak menyangka, kalo Thalita harus menanggung beban yang begitu berat. Hidup tanpa ada orang-orang yang di cintai. Hidup sendiri. Sarah tidak bisa membayangkan jika itu terjadi pada dirinya. Sarah memeluk Thalita. Pelukan yang hangat dan menenangkan. Di usap-usapnya punggung gadis itu. Mencoba menenangkan Thalita.
“Aku ngerti perasaan kamu. Tapi, kamu harus tau, kalo Allah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan kita, dan kita juga tidak bisa melawan takdir. Kamu harus ingat, tidak ada yang abadi di dunia ini. Semua yang ada di dunia ini, milik Allah, bukan milik kita seutuhnya. Dan suatu saat nanti, Allah akan mengambil kembali miliknya itu. Kamu harus sadar akan hal itu.”
Sarah melanjutkan kalimatnya.
“Seharusnya, kamu harus lebih siap menerima semua kenyataan yang akan datang. Aku yakin, di balik semua ini, Allah pasti sudah merencanakan sesuatu yang tidak kita ketahui. Sebuah kebahagiaan itu akan datang nantinya. Itu cuma masalah waktu. Kamu nggak boleh terus larut dalam kesedihan. Nikmatilah hidup ini. Masa depan yang cerah sedang menunggu kamu,” ucap Sarah tulus.
Thalita melepas pelukan Sarah, lalu menghapus air matanya dan menatap Sarah dengan tatapan yang tidak dapat di jelaskan.
“Tapi gue nggak sanggup, Rah. Gue juga nggak mau terus larut dalam kesedihan. Tapi, gue nggak bisa. Dan kebahagiaan, gue malah pernah berpikir, nggak kan ada lagi kebahagiaan dalam hidup gue,” kata Thalita lemah.
“Aku yakin, kamu pasti bisa hidup tanpa mereka. Kamu harus ingat, Allah selalu berada di dekat kita. Dia maha mengetahui dan maha melihat, tak ada yang luput dari penglihatannya. Dia tau keadaan hambanya dan Dia akan selalu melindungi kamu. Kamu harus yakin, kalo suatu saat nanti, Allah akan memberikan kebahagiaan buat kamu. Anggap aja ini bentuk kasih sayang Allah.”
“Lo nggak ngerti perasaan gue. Lo gampang ngomong kayak gitu, karena lo nggak berada di posisi gue. Udahlah, gue pengen pergi. Gue udah biasa dengan orang kayak lo, mereka yang cuma bisa ngomong tanpa bisa merubah kenyataan. Makasi, lo udah mau dengar cerita gue,” ucap Thalita lalu bangkit dari duduknya. Ia berbalik lalu masuk ke dalam mobil. Thalita memutar kunci mobil, lalu tancap gas.
Dalam diam, Sarah memandang mobil Thalita yang menjauh. Ia bingung bagaimana caranya, untuk merubah gadis itu. Ia tau, Thalita nggak ingin kata-kata, tapi dia ingin mengubah takdir. Bagaimana bisa dia mengubah kenyataan? Bagaimana bisa dia mengubah takdir? Tanpa sadar, sebuah ide muncul dalam pikiran Sarah. Gadis itu memang tidak bisa mengubah takdir, tapi ia bisa mengubah diri Thalita. Sarah pun tersenyum lalu beranjak pergi.
******
Sepulang sekolah, Sarah langsung mengajak Thalita pergi. Tentu saja tidak mudah mengajak gadis itu pergi. Sarah pun membujuk, bahkan memohon pada Thalita agar ikut dengannya. Karena ia peduli dengan Thalita, makanya ia rela memohon pada gadis itu.
“Aku ingin menunjukan sesuatu. Sesuatu yang bikin kamu, merasa jadi orang yang paling bahagia di dunia.”
Ucapan Sarah itu membuat Thalita penasaran. Gadis itu pun akhirnya menerima ajakan Sarah. Sarah langsung tersenyum, ia tau kesabaran akan selalu berbuah manis.
Setelah turun dari angkot, mereka berjalan di trotoar, di bawah terik sinar matahari. Kebetulan Thalita nggak bawa mobil. Thalita mengusap keringat yang mengalir di dahinya. Ia menatap Sarah yang seakan nggak ngerasa apapun. Padahal kan sekarang panas banget! Gadis itu tetap santai berjalan menyusuri trotoar.
“Lo nggak ngerasa panas, Rah?” tanya Thalita menjajari langkah Sarah.
“Siapa bilang? Cuaca panas banget gini, masa aku gak terasa?”
“Trus kenapa lo santai aja?”
“Karena, aku salut sama matahari! Matahari itu punya cahaya banyak banget, yang bisa menerangi penjuru dunia. Hebat nggak tuh?” ucap Sarah dengan mata berbinar-binar. ”Wahh..nggak kebayang deh, kalo nggak ada matahari. Duniakan bisa gelap. Dan manusia pasti kelimpungan. Kadang, hal-hal seperti itu patut kita syukuri. Trus matahari juga tunduk sama Allah. Disiplin banget! Pagi-pagi aja udah ngebangunin manusia. Coba aja kamu pikir, mana pernah matahari telat? Nggak pernah kan? Dia ngerjain tugasnya dengan taat. Nggak seperti kebanyakan manusia, yang rata-rata nggak patuh sama Allah.”
Thalita hanya diam. Dalam hati, ia membenarkan kata-kata Sarah. Tiba-tiba Sarah menghentikan langkahnya. Refleks, Thalita juga berhenti. Thalita menatap Sarah dengan tatapan bingung. Kini mereka berada di tepi jalan.
“Kamu liat di sana,” ucap Sarah pelan. Thalita pun ikut nengok ke arah yang ditunjuk Sarah. Ia melihat beberapa anak-anak jalanan sedang menghitung hasil kerja keras mereka.
“Mereka itu nggak punya keluarga. Mereka hidup hanya mengandalkan kemampuan sendiri. Kamu harus bersyukur masih punya keluarga. Mereka hidup sebatang kara. Mereka nggak punya tujuan hidup. Kadang, aku ingin melihat mereka tertawa gembira,” kata Sarah. Thalita kembali menatap Sarah. Ia tersenyum.
“Nah, sekarang kita pergi ke suatu tempat. Kamu jangan banyak nanya,” kata Sarah sambil menggenggam tangan Thalita.
Sarah mengajak Thalita ke pinggiran kota. Tepatnya di sebuah perkampungan dekat sebuah sungai di bawah jembatan. Rumah-rumah di bawah jembatan itu terbuat dari papan dan anyaman bambu. Pakaian-pakaian yang di jemur di sekitarnya menambah kesan tidak rapi. Mereka juga melihat anak-anak kecil yang sibuk bermain kejar-kejaran. Tertawa gembira. Mereka pun mendekatkan diri ke tepi jembatan. Menatap lebih dekat pemandangan itu.
“Betapa susahnya mereka menjalani hidup yang begitu berat. Aku kasihan melihat wajah-wajah polos itu. Hidup mereka begitu susah. Tapi, mereka tetap bisa tertawa melihat dunia. Karena mereka tau, sekeras apapun mereka melawan takdir, mereka tetap tidak bisa melawan takdir. Menurut mereka, dari pada melawan takdir, lebih baik melawan diri sendiri untuk melakukan perubahan. Mereka berpikir, nggak ada gunanya menangisi nasib, soalnya itu cuma menambah kesengsaraan mereka. Menurut mereka, lebih baik tertawa menghadapi dunia, dari pada menangisi nasib. Karena, kebahagiaan itu nggak tergantung dengan apa yang kita punya, tapi tergantung pada apa yang kita pikirkan,” ucap Sarah sambil menatap Thalita.
Thalita langsung memeluk Sarah. Ia baru sadar, akan apa yang ia perbuat selama ini. Selama sepuluh bulan, ia membuat dirinya menderita.
“Thanks banget ya, Rah,” ucap Thalita tulus.
Sarah tersenyum. Kemudian melepas pelukannya. “Eh, masih ada satu tempat lagi yang harus kita kunjungi,” kata Sarah.
Mereka pun pergi meninggalkan perkampungan itu. Sarah mengajak Thalita ke sebuah panti asuhan. Mereka hanya melihat dari luar, pandangan mereka tertuju kepada anak-anak kecil yang lagi bergotong royong membersihkan tempat tinggal mereka.
“Mereka itu nggak punya orang tua. Kamu masih beruntung, masih ada Tante sama Oom, yang menjaga dan merawat kamu. Sementara mereka, nggak punya siapa-siapa dalam hidup. Tapi, mereka tetap bisa tersenyum. Karena mereka punya sifat ikhlas. Ikhlas menerima semua kenyataan. Meski kenyataan itu sangat pahit bagi mereka. Mereka juga yakin, kalo mereka punya Allah yang akan selalu di dekat mereka,” ucap Sarah.
Lagi-lagi Thalita memeluk temannya itu. Ia benar-benar merasa beruntung, bisa berteman dengan seorang seperti Sarah. Karena Sarah, Thalita bisa bangkit lagi, tersenyum, dan kembali seperti Thalita yang dulu. Kini, Thalita tau, kalo kita nggak perlu mengubah kenyataan, melawan takdir, tapi seharusnya kita mengubah diri sendiri. Karena jika kita bisa mengubah diri sendiri, maka kenyataan akan berubah dengan sendirinya, dan kita akan menemukan kebahagiaan.
******
Thalita berdiri mematung menatap makam orang tuanya. Sesaat kemudian, gadis itu langsung berjongkok di samping makam dengan satu lutut menyentuh tanah. Sarah pun mengikuti. Tersungging senyuman di wajah Thalita yang di balut jilbab. Gadis itu memang telah berubah, menjadi sosok muslimah. Setelah berdoa dan membaca surat Al-fatihah, Thalita menaburi mawar merah di atas kedua makam itu.
“Ma, Pa, jangan marah karena Tata selalu menangis selama ini, dan maaf kalo Tata baru ngelihat Mama sama Papa sekarang. Mama sama Papa pasti tau alasannya kan? Tata cuma butuh waktu untuk bisa menerima kenyataan. Sampai akhirnya Tata bisa menerima kenyataan. Tata berharap Mama sama Papa di sana, bisa tersenyum dan bahagia melihat Tata yang sudah menjadi seorang muslimah. Mama dan Papa harus tau, walaupun mama dan papa udah nggak ada lagi, tapi mama dan papa akan selalu ada di hati Tata. Tata sayang kalian. Tata janji, akan selalu tersenyum dan membuat kalian bangga,” kata Thalita sambil tersenyum. Sarah pun ikut tersenyum.
Setelah melihat makam kedua orang tuanya, Thalita pergi menuju makam Ayra, yang tidak berada jauh dari makam kedua orang tua nya. Tak lama kemudian, mereka sampai di makam Ayra. Hal yang sama juga mereka lakukan di makam Ayra. Thalita tersenyum.
“Ra, kamu juga jangan marah, karena aku baru datang sekarang dan selalu menangis. Aku cuma butuh waktu. Buktinya, sekarang aku tidak menangis lagi, dan kembali menjadi Tata yang dulu. Aku berharap kamu bahagia di sana, dan tersenyum melihat aku yang bahagia. Kamu akan lihat, aku akan kembali seperti Tata yang dulu, Tata yang kamu kenal. Thalita yang selalu bersemangat dan tersenyum. Oya, kamu pasti senang kan, ngelihat aku yang berubah menjadi yang lebih baik? Aku yakin, kamu pasti senang. Aku akan selalu tersenyum, tidak menangis lagi, bersemangat, dan tertawa seperti biasa. Aku janji..”
Setelah melihat makam orang-orang yang di cintainya, Thalita dan Sarah kembali pergi. Thalita merasakan perasaan lega, setelah melihat makam mereka. Ia merasa rasa rindunya terobati. Sesuai janjinya, Thalita mengajak Sarah keliling Jakarta. Sarah merasa takjub melihat keindahan kota itu. Gedung-gedung yang tinggi menjulang dan tempat-tempat rekreasi yang banyak. Mereka juga mengunjungi monument nasional dan beberapa museum.
Sekarang ini, Thalita akhirnya merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan yang ia impikan selama ini. Ia kembali menata kembali kehidupannya yang baru. Banyak hal yang ia pelajari selama ini dan banyak hikmah yang terkandung di balik sebuah cobaan.
Thalita baru sadar, kalo kebahagiaan itu akan kita dapatkan jika kita selalu mengingat Allah. Karena kebahagiaan yang sesungguhnya itu, datangnya dari Allah. Dan juga ia sudah siap menerima semua kenyataan yang akan datang, karena ia mencoba tetap ikhlas.
Thalita juga selalu ingat, jika semua yang ada di dunia ini, adalah milik Allah, dan suatu saat nanti Allah akan mengambil kembali miliknya itu, berdasarkan waktu yang telah ditentukan. Sesungguhnya, cobaan yang di berikan Allah kepada hambanya, adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah, sehingga barang siapa yang mau bersabar dan tidak pernah putus asa, maka niscaya Allah akan meningkatkan derajat manusia itu di sisinya, dan akan memberikan yang terbaik.
1:05:00 AM |
Category: |
0
komentar







Comments (0)