Pray And Answer

Malam datang membawa bulan putih yang dingin melotot ke bawah, dari langit hitam abu-abu yang terlihat ganas. Langit di atas pantai kuta.
 Di sana sangat banyak mayat, bergelimpangan. Salah satu mayat itu tergeletak di atas tembok-tembok reruntuhan. Ada pula yang mengadah di got-got kecil, berlinang lumpur, bercampur pecahan kaca, kayu dan bebatuan. Lainnya tersangkut dengan anehnya pada tiang-tiang listrik, dan pohon tumbang. Lumpur sisa ombak tsunami telah membasuh darah dan nanah, dan di bawah sinar bulan, bangkai mati tampak seperti kotoran yang membengkak dan menjijikkan. Di sekitar semua itu, yang terdengar hanyalah jangkrik musim lembab yang kesepian. Dan mungkin juga rintihan arwah-arwah yang mengheningkan cipta.
 Malam yang lalu, mayat-mayat itu masih sempat hidup, bergerak-gerak, berpesta pora di pinggir pantai dan tempat-tempat hiburan malam. Malam yang lalu, beberapa dari manusia itu masih sempat bernyanyi, mengikuti tarian rancak lagu rock, melompat-lompat, kadang tertawa sambil bergoyang - goyang, mengikuti ritme lagu. Sungguh kegembiraan yang meluap-luap.
 Tidak lama kemudian.
 Mereka terhambur. Serupa semut disiram minyak tanah, disertai teriakan dari ratusan ribu suara berbeda-beda, teriakan kata-kata yang merupakan ratapan kehilangan kesadaran, juga seruan pertolongan dan lolongan. Suara itu meronta-ronta diteriakkan dan dijeritkan dan diratapkan dan dipekikkan dari banyak tenggorokan manusia yang panik.
Betapa tidak?
 Ombak tsunami yang ganas datang mengamuk menghempas mereka. Sampai akhirnya menyisakan mayat-mayat dan kehancuran. Begitu absolutnya dan misteriusnya kematian, sehingga semua yang bernyawa tiba–tiba rapuh dan kecil tak berdaya sedikitpun terhadapnya.
 Namun di sini, di pulau tak bertuan, jauh dari tempat kejadian itu, keajaiban pun bermula.
***
 “Mungkin aku masih beruntung” lelaki itu bergumam disertai rasa syukur keselamatan, namun juga kesedihan yang sangat dalam.
 Wandi seorang pemuda, korban beruntung malam itu.
 “Tolong…” Suaranya yang lelah mengaum namun tidak terjawab.
 “Tolong… adakah orang di sana?”
 Pemuda itu telah ditinggal sendirian dan terdampar. Setelah digiring jauh menyeberang pulau oleh sisa ombak tsunami. Suasana hening, tanpa nyanyian manusia lagi — begitu hening — sehingga orang mungkin berpikir bahwa di sini adalah dunia lain; bunyi angin sepoi ringan pun yang bergerak mampu tersadap daun telinga. Keheningan dan kesunyian sungguh tebal, disertai dingin yang menggigit, di pulau tak berpenghuni ini.
 Wandi sekarang terdiam, setelah berteriak-teriak namun sia-sia. Dunia disekelilingnya telah mati.
 “Di mana saya berada?” ujarnya lirih hampir tak bersuara.
 “Di mana saya berada?” Pertanyaan itu seolah menjadi tasbih yang diucapkan benaknya berulang-ulang, bertanya pada dirinya sendiri.
 Setelah terpana memandang betapa dunia yang asing di sekitarnya begitu misterius dan tersembunyi, dia menoleh ke kanan, ke kiri lalu ke belekang, lalu berjalan tertatih sambil terhuyung mencari manusia selain dirinya.
 “Di dunia macam apa saya terdampar?”Disangkanya ini semua hanyalah mimpi sesaat yang akan segera berlalu.
 Setelah berjalan separuh malam sampai pagi datang merekah. Sambil termenung-menung, dia kini tengah terpaku sesaat, lalu terdiam kemudian ambruk, badannya membentur tanah, terbaring pasrah bersama sisa tenaga yang dimilikinya. Wajahnya dan matanya mengadah ke langit pagi yang cerah, namun tidak dinikmatinya. Dadanya terasa sesak, dan saat itu dia mengingat adengan masa lalunya, tentang hidup masa-masanya dulu yang tak beraturan, dan juga tentang malam tsunami di pantai kuta itu.
 Ada peneyesalan yang timbul disertai setumpuk kebingungan, harapan, cacian, makian, do’a-do’a penderitaan. Dan juga kesyukuran, karena dirinya masih sempat menghirup udara hari ini. Meski kenyataannya dia saat ini seorang diri.
 Hanya seekor burung laut yang sesekali singgah menemaninya, berkaok-kaok mengoceh di ranting pohon bakau, kemudian kembali terbang.
 “Oh.. Tuhan, terimakasih engkau masih menyelamatkan nyawaku, tapi kenapa saya hanya sendiri di pulau ini? Atau mungkinkah diriku akan dihukum dalam keadaan sendiri.?. ah.., seandainya saja ada manusia , berupa seorang wanita yang sangat cantik. Yang bisa aku temani di pulau ini, mungkin batinku tidak tersiksa oleh rasa sepi yang menusuk. ”.. lirih penuh harap.
 Dan Tuhan pun Maha mengerti, bahwa pemuda itu butuh teman. Maka seketika itu pula do’anya terjawab.
“kret…kret……” terdengar halus bunyi ranting bergoyang dan terseret dari balik hutan. Kesendiriannya terasa buyar. Kesadarannya akan keadaannya sekarang telah kembali. Suara tiba-tiba itu mengejutkannya.
 “mungkin suara itu dari langkah kaki manusia” pikirnya, ada secercah harapan.
 “hello…..apa ada orang di sana?” bertanya menyelidik sambil mencoba untuk bangkit, suaranya bergaung memantul-mantul.
 Lima detik, lalu sepuluh, kemudian satu menit, lama tidak ada jawaban. Harapan itu menjelma suasana yang begitu mencekam. Seolah ada sesuatu yang kejam mengendap-endap, mengintai dan mengancam hidupnya dari dalam hutan sumber suara. Waktu pun mengapung terasa begitu lambat.
 Diam-diam wandi perlahan mundur menjauhi sumber suara. Inderanya pun semakin menajam, napasnya megap-megap, bibirnya memucat. Sebuah batu karang bergerigi seukuran bola cakram ditentengnya sebagai alat perlindungan dan persiapan, berjaga dari serangan hewan buas yang bisa saja datang dari berbagai arah secara tiba-tiba.
 Tapi, alangkah terkejutnya.
 Dari balik pepohonan yang lebat. Berangsur-angsur, muncullah seorang wanita berusia tua sekitar hampir tujuhpuluhan. Dengan pakaiannya yang lusuh, kusam dan sudah agak rombeng. Daster merah kecoklatan berwarna tanah menghijab tubuhnya, rambut panjang keabuan menutupi sebahagian wajahnya, menampakkan aura menyeramkan. Kesemua penampilannya dari ujung rambut sampai kaki menjadikannya seperti hantu penjaga pulau yang tersesat pada suasana pagi itu.
 Hampir-hampir wandi tidak bisa menguasai dirinya, sekujur tubuhnya seolah kaku, pertahanannya ambruk saat perlahan-lahan wanita tua itu berjalan mendekatinya. Ingin sekali rasanya wandi melarikan diri. Sejauh- jauhnya. Namun kemana harus berlari? Bukankah wandi hanyalah seorang tamu yang tak diundang di pulau itu? Ah. betapa kurang beruntungnya diri wandi saat ini.
 Langkah kaki wanita tua itu pun semakin dekat menghampiri. Hingga tertinggal jarak tiga langkah dengannya.
 “maa.. ma.. maaf kalau saya meng….mengganggu, nek..” jantungnya semakin berdegup kencang melompat-lompat, menjadikan suara dan aksennya terbata-bata.
 Wanita tua itu menatapnya sebentar, lalu menyungging senyum tipis sekilas, disertai suara serak-serak basah yang ghoib, berkata “jangan takut anak muda! Aku juga manusia”
 Rasa takut yang mendera wandi pun perlahan – lahan surut. Namun rasa segan dan penasarannya masih belum dapat tertutupi.
 “Kenapa engkau bisa berada di sini? Anak muda!”
 “A..a..aku salah satu korban banjir tsunami yang terdampar nek.”
 “Oh…,mungkin engkaulah manusia utusan Tuhan” wanita tua itu kembali menampakkan senyumnya yang ngeri, kali ini lebih lebar.
 “Ma…maksudnya nek??”
Wandi terkejut, alisnya sedikit berkerut mendengar pengakuan wanita tua itu. Dia tidak paham apa maksud kata utusan Tuhan?.
“Nanti kau akan tahu. Hm…sepertinya kau butuh istirahat, mari ikut denganku.” sambil berucap lalu berbalik kembali ke dalam hutan, namun wandi masih ragu-ragu untuk ikut.
 Baru beberapa saat, wanita tua itu berbalik menoleh ke arahnya .
“hai… anak muda‼ apa kau ingin terus terpaku dan terlunta lunta di situ. Ayo ikutlah‼”
 Tanpa bicara,Wandi pun menuruti kata wanita tua itu, mengikutinya masuk ke hutan. Di sana-sini berbagai bentuk, gerak, bunyi spesies flora dan fauna di hutang itu menyambutnya. Dilauinya semak-semak belukar, daun-daun, pohon-pohon beragam yang berlumut, dibiarkan hidup sendiri sehingga tak beraturan. Selain itu, beragam burung yang berkicau, bertengger dan beterbangan, tinggi di atas pepohonan.
 Berjalan dan terus berjalan.
 Bagi wandi setiap langkah, setiap nafas, merupakan tantangan yang diperjuangkan mati-matian. Tenaganya terkuras oleh gelombang tsunami yang menculiknya. Semakin lama berjalan, semakin terasa tubuhnya menggigil dan nyeri akibat luka-luka gores. Saat tiba di tempat tujuan, terasa pusing, lelah, lapar, haus menyerangnya.
 “bruk….” Tubuh Wandi pun oleng membentur tanah. Dia pingsan.
 ***
Angin berbisik, lalu sedikit bergoyang, kemudian mengencang menjadi siulan keras dan akhirnya meraung – raung keras di antara pepohonan hutan, menghentakkan ranting dan dedauanan. Dan saat itulah anak muda itu terbangun, seolah dikagetkan.
Wandi terbaring di atas tumpukan daun-daun kelapa yang kering, dalam ruangan suatu pohon yang amat besar. Pohon itu berada tepat di pinggir sungai rimba yang jernih
 “Engkau lama tidak sadarkan diri anak muda. Makanlah ini.” Wanita tua itu menyuapnya “di sini engkau aman dari gangguan hewan buas juga hawa dingin ”.
 Kecurigaan Wandi pada wanita tua itu seolah sirna, menjadi sedikit lebih akrab.
 “Nenek kok bisa berada di sini?”
 Dan wanita tua itupun bercerita panjang lebar kepadanya.
 “Sekitar lima puluh tahun yang lalu. Saat itu umurku berusia dua puluh tahun, masih gadis. Waktu itu aku tengah menuju ke negeri Eropa untuk kuliah. Tetapi dalam perjalanan pesawat yang aku tumpangi terkena musibah, bagian belakannya meledak dan terjatuh di laut. Aku salah satu korban yang selamat, sama seperti engkau yang salah satunya selamat dari bencana tsunami.”
 Wandi membisu. Terhenyak setelah mendengar kisah kecelakaan sampai perjuangan wanita tua itu hidup sendiri di tengah hutang. Ternyata mereka berdua adalah orang yang beruntung.
 “Anak muda siapa namamu, dan berapa umurmu?”
 “Namaku Wandi nek, saat ini umurku duapuluh enam tahun”
 "Dua puluh enam tahun? umurmu sudah ideal untuk menikah" wanita tua itu memberi komentar yang halus.
 Kemudian Wandi balik bertanya “kalau nenek, namanya siapa?"
 “Terus terang..., saya tidak suka dan tidak mau dipanggil nenek. Panggil aja aku Ajeng. Umurku baru hampir tujuh puluh tahun.‼ aku ini masih muda. Masih perawan.”
 Wandi cekikikan mendengar penuturan barusan, namun disangkanya wanita itu hanya bercanda untuk sekedar mencairkan suasana.
 “Oh… nenek Ajeng masih mudah yah? hihi….” Di sertai tawa yang tidak bisa ditahannya.
 “Hai… Anak Muda‼ kamu kira saya bercanda yah?, mulai sekarang.. aku tidak mau dipanggil nenek oleh kamu‼.”
 Dan wandi pun terkejut kaget dan bertanya- tanya. “ ma …, maaf … Ajeng.” penasaran “kalau aku boleh tahu apa alasannya ?”.
 Dengan tenang wanita tua itu menjawab “ Karena engkau adalah utusan Tuhan buatku. Atas jawaban do’a-do’a dan penantianku selama ini”
 “Maksud Ajeng?” penasaran Wandi membuncah, ada sesuatu yang harus segera dimengerti.
 “Kau harus menikahiku dan mengakhiri masa lajangku”
 “A..a..apa?” kaget bukan kepalang, ini tidak mungkin pikirnya. Namun belum selesai rasa kagetnya, tiba-tiba wanita tua itu kembali memberi peringatan.
 “jangan khawatir anak muda, di sini ada yang siap jadi saksi” sambil menunjuk ke pintu gua pohon itu, seekor singa betina menatapnya. lalu berkedip "dia hewan peliharaanku"
 Oh, betapa kurang beruntungnya wandi, tapi setidaknya doanya pun betul–betul terjawab. Kali ini dia mempunyai pendamping hidup. Yang paling cantik di pulau itu. Wanita yang tidak ada duanya di pulau itu. Dan kisah adam dan hawa pun bermula, dalam versi yang berbeda di pulau Doja ( Do'a yang Terjawab).

Comments (0)